CHINA MERAPAT KE ASEAN, SIAPA YANG MEGAP MEGAP ?

CHINA MERAPAT KE ASEAN, SIAPA YANG MEGAP MEGAP ?

IstanaNews.com, Internasional : Saya tidak katakan bahwa dengan adanya ‘atensi’ lebih dari Presiden Perancis, Pangeran Charles Inggris,  para Kepala Negara ASEAN, dsb waktu lalu kepada Presiden Jokowi. Namun, kita telah rasakan bahwa politik internasional pun agak sedikit ‘nyaman, ‘Ngeri ngeri sedap.

Perseteruan antara Perancis, Australia, Amerika , UK dsb selama ini khususnya di kawasan Indo Pasific yang mengarah kepada ‘pengeroyokan’ terhadap China / Tiongkok pastinya membuat banyak kepala negara sedikit ‘was – was’ apalagi dalam situasi Pandemi Covid 19 selama 2 tahun ini. Termasuk ASEAN, namun setelah tersepakati ASEAN Out-Look sejak tahun 2018 lalu yang diinisiasi oleh Presiden Jokowi dan ‘gerak cerdas’ beliau selama ini memang demikianlah realitanya.

Bagaimana bisa mereka semua berharap penuh kepada beliau selaku Presidensi KTT 2022 mendatang, bukankah masih banyak kepala negara yang bukan berasal dari tukang meubel?, masih banyak negara yang lebih besar anggaran militernya dibanding kita?, dsb, dst. Tetapi mengapa lebih percaya kepada seorang Ir. H. Joko Widodo, hanya Allah yang tahu. 

Ahahaha…

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat foto bersama pada KTT G20 di Osaka, 28 Juni 2019. (Foto: AFP)

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat foto bersama pada KTT G20 di Osaka, 28 Juni 2019

Menteri Luar Negeri China – Wang Yi  yang bertemu para duta besar dari negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Beijing (15/11) lalu adalah bagian kecil dari bukti jika ASEAN memang punya posisi strategis dalam politik Internasional juga di kawasan Indo Pasific.

Menurut Wang Yi, Presiden Xi Jinping terus menjalin komunikasi dan saling mendukung para pemimpin di ASEAN untuk meningkatkan konsolidasi dan kerja sama bilateral. Terkait isu Laut China Selatan, menurut Wang, China dan ASEAN senantiasa menempatkan masalah ini pada posisi yang tepat dalam hubungan bilateral. Wang pun berharap para pihak memanfaatkan momentum peringatan 20 tahun deklarasi tentang perilaku para pihak di LCS (DOC) pada tahun depan dengan meningkatkan konsultasi tentang kode etik di LCS (COC).

Saya ingat, saat China Expo di Nanning November 2020 lalu, China merilis bahwa mereka telah ber-investasi di ASEAN lebih dari Rp. 550 trilyun dalam periode thn. 2019 – 2020 lalu khususnya di sektor industri & energi terbarukan,  kesehatan, logistik dsb.

Lucunya China masih ‘malas investasi di Indonesia, buktinya periode thn.2019-2020 lalu China hanya diperingkat ke-3 dengan nilai US$ 1,7 miliar, peringkat ke-1 adalah Singapura – US$ 4,7 miliar dan ke-2 adalah Hong Kong –  US$ 2,3 miliar. Ahahahaha…

Namun China akan galak disaat kepengtingan nasionalnya terganggu ‘orang luar, kalau pun karena masalah sepele. Misalnya, bulan September 2020 lalu, Amerika berencana akan latihan perang besar-besaran di Guam, pulau kecil di Pasifik yang jadi basis pesawat-pesawat pembom nuklir Amerika. Kegiatan ini bernama “Valiant Shield” yang melibatkan 100 pesawat dan sekitar 11.000 tentara.

See the source image

China pun langsung bereaksi kera, “Kami memiliki sengketa teritorial dengan beberapa negara tetangga yang dihasut oleh AS untuk menghadapi China. Beberapa dari negara ini percaya bahwa dukungan AS memberi mereka kesempatan strategis dan mencoba memperlakukan China dengan keterlaluan. Kami yakin bisa menang di medan perang jika terjadi konflik dengan pasukan tetangga yang memiliki sengketa teritorial dengan China. Termasuk negara ASEAN yang bersekutu dengan Amerika”, demikian sebagaimana yang ditulis The Global Times.

Wajah Amerika pun ‘memerah melalui Laksamana Muda AS Michael Boyle – Armada Pasifik AS, sikap China itu pun dibalas.  “Sangat penting bagi kami untuk menunjukkan kepada sekutu dan mitra kami, komitmen kuat kami untuk Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” katanya

Jangankan diluar, popularitas China pun cukup meningkat di tanah air, bahkan pada 2019, China dianggap sebagai negara yang pengaruhnya paling besar di Asia dan Indonesia, melampaui pengaruh Amerika Serikat dan Jepang.

Tetapi jika berbicara tentang sentimen masyarakat terhadap pengaruh China, sentimennya semakin negative. jumlah orang yang menganggap pengaruh China positif selama hampir 10 tahun terakhir ini menurun tajam. Sedangkan jumlah orang yang menganggap pengaruh China negatif meningkat tajam.

Itulah Indonesia !

Ahahahaha..

 

(Red-01/Foto.ist)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan