” TOKO MERAH & GEGER PECINAN THN.1740, JANGAN DILUPAKAN “

” TOKO MERAH & GEGER PECINAN THN.1740, JANGAN DILUPAKAN “

Istananews.com, Lifestyle:
Menurut sejarawan Thomas Ataladjar Toko Merah di Kota Tua Jakarta dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron Van Imhoff pada 1730. Kemudian sekitar tahun 1830  menjadi rumah dan toko milik seorang saudagar Cina yang bernama Oei Liauw Kong .

Toko Merah terletak di sisi barat Kali Besar, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Beralamat di Jalan Kali Besar Barat No 11, RT 7 RW 3 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora

Pada waktu ditangannya bangunan ini dia cat temboknya toko itu dengan warna merah hati . Kenapa warna merah hati, karena bagi dia warna tersebut merupakan unsur Kebudayaan Tionghoa.Pada waktu dulu bangunan tersebut pernah dijadikan sebuah Hotel yang lumayan terkenal dikawasan pecinaan kota. Hotel tersebut bernama Hotel Heerenlodgement.

See the source image

See the source image

Pada tahun 1934 bangunan tersebut juga pernah menjadi kantor perusahaan dagang Belanda Jacobson Van Den Berg. Pernah juga menjadi Akademi Maritim dari tahun 1743 hingga 1755.

Waktu zaman pendudukan Jepang bangunan tersebut menjadi kantor Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Dan Pada tahun 1945 berubah lagi menjadi Markas Pasukan Inggris.

Pada sekitar tahun 1950 an menjadi kantor PT Pantja Niaga, dan sekitar tahun  1960 an menjadi kantor Dharma Niaga. Benar benar suatu perjalanan panjang lintas generasi, bangunan tersebut menjadi saksi bisu perubahan jaman dari  waktu ke waktu yang absah.

MISTIS SEPUTAR TOKO MERAH

Saya pernah 2 kali ‘mampir’ kesana kalau pun tidak bisa masuk karena prokes Covid 19, memang benar kata banyak orang jika tempat itu punya ‘nyawa, kalau pun tidak berjumpa dengan hantu  ‘noni Belanda yang kerap berdiri di balik kaca jendela sedang melihat ke arah luar. Namun cukup membuat jantung ini berdetak kencang, mistis beud.

Noni Belanda yang tidak diketahui namanya itu disebut sebagai sosok yang membela etnis Tionghoa pada kejadian Geger Pecinan. Wajahnya hancur karena diinjak-injak orang Belanda dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Hal ini diperkuat adanya  pengunjung yang kesurupan makhluk halus ketika berada di depan Toko Merah.

Memang sering beredar isu didalam Toko Merah itu juga kerap terdengar rintihan suara anak dan perempuan, sebagian mengaitkannya dengan banyaknya korban anak dan perempuan Tionghoa yang dibantai didalam oleh Belanda saat tragegi ‘Geger Pecinan

See the source image

Geger Pecinan  terjadi pada tahun 1740. Dimana ribuan orang-orang Tinghoa sipil  di Batavia dibantai oleh pasukan Belanda. Rumah-rumah dan toko-toko milik orang Cina di wilayah Oud Batavia dan Ommenlanden dibakar tiada tersisa termasuk mereka yang terjebak didalamnya. Khususnya usia anak, perempuan dan orang tua jompo.

Salah satu lokasi pembantaiannya tepat di depan Toko Merah, yang berlantai 3 ini,  mayat-mayat bergelimpangan dan darah menggenang hingga setinggi mata kaki, ini dikarenakan para korban dibunuh dengan ditusuk, bukan ditembak, demi menghemat peluru.

Bahkan, Kali Besar di depan Toko Merah penuh dengan mayat yang bahkan bisa diseberangi dengan menginjak tumpukan mayat di sungai itu. Nah disumber lain disebutkan banyak Noni Belanda yang merasa iba, ikut menyelamatkan beberapa anak dan perempuan Tionghoa dan dibawa ke dalam Toko Merah, namun upaya itu bocor ke telinga Belanda maka Toko Merah pun digeledah, tiada yang tersisa semua dibunuh termasuk para Noni penyelamat itu.

Adapun pria Tionghoa anak dan dewasa yang tertangkap mereka tawan kemudian dinaikan kebeberapa perahu dan dibuang ditengah laut dengan pemberat batu, dsb.

BERSATU MELAWAN BELANDA

Geger Pacinan (Tragedi Angke;  Chinezenmoord) yang berarti “Pembunuhan orang Tionghoa”, merupakan sebuah pogrom terhadap orang keturunan Tionghoa di kota pelabuhan BataviaHindia Belanda (sekarang Jakarta). Kekerasan dalam batas kota berlangsung dari 9 –  22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi menjelang pembantaian ini. Untuk menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuan Dewan Hindia (Raad van Indië), badan pemimpin Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Gubernur-Jenderal Adriaan Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan. Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda.

See the source image

Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan, yang mengambil semua senjata dari warga Tionghoa dan memberlakukan jam malam. Dua hari kemudian, setelah ditakutkan desas-desus tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam.

Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh. Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan. Di luar batas kota, pasukan Belanda terus bertempur dengan buruh pabrik gula yang berbuat rusuh. Setelah beberapa minggu penuh pertempuran kecil, pasukan Belanda menyerang markas Tionghoa di berbagai pabrik gula. Orang Tionghoa yang selamat mengungsi ke Bekasi.

Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Jumlah orang yang selamat tidak pasti; ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat. Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa. Hal ini memicu suatu perang selama dua tahun, dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda. Setelah itu, Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian ini; Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal. Hingga zaman modern, pembantaian ini kerap ditemukan dalam sastra Belanda. Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta

See the source image

See the source image

Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu etimologi untuk nama Tanah Abang (yang berarti “tanah merah”) ialah bahwa daerah itu dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; van Hoëvell berpendapat bahwa nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat dari pogrom lebih cepat menerima amnesti. Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena banyak mayat Tionghoa yang tidak dimakamkan hanya dibuang ke rawa – rawa dsb, juga ada nama Angke di Tambora, Jakarta Barat.

(Red-01/Foto.ist)

Lainnya,

SUAMI SEJATI ITU BERNAMA  WILL SMITH ! | ISTANA NEWS

MANDALIKA PUNYA MIGUEL , KITA PUNYA RARA ISTIATI WULANDARI, ‘AYE ! | ISTANA NEWS

Life Style & Sport (4), ” OFFROAD LEMBANG MARAK, TAPI SUSAH SINYAL . HALO BUPATI  BANDUNG BARAT !” | ISTANA NEWS

LifeStyle – (3), MENGENAL LIVE STREAMING SEBAGAI BISNIS  | ISTANA NEWS

Meja Redaksi (2), ‘TAHUN 2022 : SELAMAT DATANG TAHUN MACAN AIR , KEEP FIGHT !” | ISTANA NEWS

Meja Redaksi (2), ‘TAHUN 2022 : SELAMAT DATANG TAHUN MACAN AIR , KEEP FIGHT !”

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan